Monday, August 29, 2016

Monday, August 29, 2016
Click here to read in English (Translated by Google)

Desember 2013,

Berhubung sisa cuti tinggal sedikit, saya berencana menghabiskan semuanya di akhir tahun berbarengan dengan libur natal dan tahun baru. Saya memiliki dua pilihan untuk tujuan travelling, yaitu antara jalan ke Medan hingga Aceh atau Makassar hingga Toraja. Setelah pertimbangan yang cukup, saya memutuskan jalan-jalan menuju Toraja. Alasannya, pertama,saya belum memiliki diving license, sehingga akan sayang sekali jika tidak dapat menyelam di Pulau Weh, salah satu diving spot terbaik yang juga titik 0 km Indonesia. Kedua, di Toraja akan berlangsung festival yang bernama Toraja International Festival.

Setelah memutuskan, saya langsung mencari tiket menuju Makassar. Saya berkeinginan pergi pada tanggal 24 Desember malamnya. Namun sayang, tiket yang didapat adalah tiket tanggal 26 Desember. Meski begitu harga tiket yang didapat terbilang cukup murah, hanya 1 juta untuk pergi dan pulang.  Saya akan pulang pada tanggal 1 Januari, sekitar jam 6 pagi. hehehe...

Tibalah saya, pada tanggal 27 Desember pukul setengah 2 pagi di Bandara Hasanuddin, Makassar. Bandara Hasanuddin ini cukup terbilang modern, dan salah satu yang terbesar di Indonesia timur. Dari situ, saya langsung menawar taxi menuju rumah teman couchsurfing saya, yang bernama Inggrid. Kebetulan Inggrid dulu berkuliah di Bandung, dan kami sama-sama member couchsurfing Bandung. Setelah setengah jam, bermodalkan gps untuk memantau lokasi tujuan, saya tiba didepan rumah Inggrid. Lama rasanya tidak jumpa dengannya setelah kami dan teman-teman couchsurfing Bandung lulus kuliah dan berpencar ke berbagai kota. Ada yang masih di Bandung, namun mayoritas dari kami pergi meninggalkan Bandung. Begitu tiba, saya langsung dengan berkenalan dengan Ayahnya. Beliau sangat ramah, meskipun saya mengganggunya dengan bertamu sekitar jam setengah 3 pagi. Saya dipersilahkan di kamar kosong yang sudah disediakan untuk beristirahat.

Setelah beristirahat selama beberapa jam, saya memulai petualangan saya untuk berkeliling Makassar. Bermodalkan handphone sebagai peta dan internet, petualanganpun dimulai. Saya menaiki angkot menuju tengah kota. Setelah sholat Jumat di sebuah masjid di markas tentara, saya berjalan kaki menuju Benteng Rotterdam dan Pantai Losari.
kakisamson makassar
kakisamson makassar

Bermodalkan kompas bacot alias tanya sana-sini, akhirnya saya menemukan benteng Rotterdam. Benteng Rotterdam (Fort Rotterdam) adalah benteng yang menjadi saksi bisu jaman kolonial Belanda di Makassar sejak tahun 1545. Awalnya benteng ini didirikan oleh kerajaaan Gowa, namun pernjanjian Bungayya mewajibkan Kerajaan Gowa menyerahkan bentengya kepada Belanda. Lalu Belanda mengubah benteng ini menjadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelmanlaksamana pemimpin armada perang pada saat itu, mengganti nama menjadi Fort Rotterdam untuk mengenang daerah kelahirannya di Belanda. Benteng ini kemudian digunakan oleh Belanda sebagai pusat penampungan rempah-rempah di Indonesia bagian timur. Museum ini tidak mempunya harga entrance fee secara spesifik, jadi pengunjung harus memberikan donasi seikhlasnya.

Di dalam benteng ini tidak hanya ada taman dengan bangunan tua yang cantik, tetapi juga terdapat sebuah museum yang berisii koleksi bersejarah dan kerajinan dari makassar dan suku-suku sekitarnya seperti Bugis dan Minahasa. Museum tersebut bernama Museum La Galigo. Kita dapat belajar mengenai kebudayaan dan sejarah di dalamnya. Untuk dewasa dikenakan harga tiket sebesar Rp. 5000, sedangkan anak-anak sebesar Rp.3000.

kakisamson makassar
kakisamson makassar


kakisamson makassar benteng rotterdamkakisamson makassar benteng rotterdam

kakisamson makassar


Tidak jauh dari Benteng Rotterdam, saya berjalan kaki sekitar 10-15 menit dan menemukan pantai Losari. Pantai Losari adalah salah satu ikon kota Makassar yang paling terkenal. Sebenarnya pantai ini biasa-biasa saja seperti pantai pada kota besar pada umumnya. Namun keunikan dari pantai ini adalah wisatawan dapat melihat pemandangan indah matahari terbit dan terbenam di tempat yang sama. Sore harinya, pantai ini menjadi tempat nongkrong bagi masyarakat Makassar. Selain itu, terlihat jelas sekali bahwa pemerintah sedang memugar pantai ini sebagai daya tarik wisata.

kakisamson makassar losari

kakisamson makassar

kakisamson makassar losari

kakisamson makassar losari

Disepanjang jalan pantai losari terdapat banyak gerobak gerobak makanan dengan berbagai jenis makanan. Ada salah satu makanan yang membuat saya penasaran, makanan tersebut bernama Pisang Epe. Saya mulai penasaran dengan makanan tersebut semenjak melihat banyak gerobak bertulisan "pisang epe" dimana-mana. Pisang epe menjadi teman saya untuk menikmati pemandangan pantai yang indah.
Ternyata  Pisang Epe adalah pisang bakar, namun dengan proses 2 kali pembakaran. Fisiknya cenderung lebih cokelat dengan pisang bakar pada umumnya. Setelah itu pisang Epe disajikan dengan Gula merah dan ditaburi keju diatasnya. Rasanya lumayan enak untuk percobaan kuliner pertama di Makassar walaupun rasa pisang ini terlalu manis bagi saya.

kakisamson makassar pisang epe

kakisamson makassar


Memang kurang ajar saya ini, ketika sudah mendapatkan tumpangan pada dini hari, di hari yang sama saya memutuskan pergi ke Tana Toraja. Memang saya sudah memberitahukan hal ni kepada host saya, Ingrid, Namun tetap saja tidak enak hati karena harus meninggalkan di hari yang sama.

Malam harinya, saya pergi ke Tana Toraja. Saat ini saya tidak sendiri, ada travelmate yang sekaligus junior saya di STP Bandung, bernama Alfi. Alfi sedang mendapatkan dirinya sebagai anak magang di PCO (Professional Conference Organizer) bernama PACTO Makassar. Magang adalah agenda wajib di kampus kami, setiap mahasiswa diwajibkan magang selama 6 bulan pada semester 5.

Kali ini saya menaiki bus seharga 130 ribu untuk rute Makassar ke Tana Toraja. Lama perjalanan kurang lebih 10 jam. Suasana bus yang saya naiki ini kurang nyaman dan seperti bus bus akap di pulau Jawa. Busnya kurang bersih, acnya kurang dingin, dan kursinya agak ringkih(goyang-goyang). Untungnya saya bisa langsung tertidur lelap walau harus menyangkutkan kaki saya agar tidak terjatuh. Setelah melalui jalan berkelak-kelok selama 10 jam, tibalah kami di Rantepao, salah satu kota di Toraja pada pukul 7 pagi.

0 komentar:

Post a Comment