Friday, March 20, 2015

Friday, March 20, 2015
1

First day of my internship (Jan, 2013)

Hari ini  adalah hari dimana saya dan teman-teman internship lainnya harus bangun sangat pagi. Jam 5 pagi kita udah harus meninggalkan Bangkok. Padahal kalo dipikir-pikir kita menghabiskan 3 hari bersama-sama di Bangkok ini hanya di Universitas Chulalongkorn, dan seandainya pergi itu juga Cuma ke Siam Paragon dan itupun hanya untuk membeli buku atau kamus bahasa Inggris-Thailand untuk memudahkan proses belajar mengajar nantinya. Karena menurut informasi di daerah tempat kia mengajar akan sulit menemukan orang berbahasa Inggris, bahkan seorang gurupun tidak dapat mengatakan suatu kata dalam bahasa Inggris. Entahlah, kita belum tahu mungkin jawabannya akan segera terungkap dalam beberapa hari kedepan.

Saya pun merasa kasihan terhadap teman teman saya seperjuangan ini yg belom kemana mana di Bangkok, tapi sudah harus pergi ke tempat antah berantah yang notabene  tidak akan seperti Bangkok. Pikiranpun dipenuhi dengan imajinasi seperti bagaimana apabila orang  local tak  ada yang mengerti bahasa Inggris, bagaimana apabila si muridnya  nakal-nakal, bagaimana apabila tidak ada air panas (kecuali orang Indonesia, karena sudah terbiasa mungkin.hehe), bagaimana apabila tidak ada internet, air conditioner ataupun makanan halal. Pertanyaan pertanyaan semacam ini selalu keluar dari pikiran dan mulut mereka.


AIESEC LC Bandung di Thailand


Namun perjalanan ini pun tidak bisa ditolak, kerena pada awalnya mereka datang ke Thailand untu k internship ataupun exchange, dan hal inilah yang harus kita terima dan jalani bagaimana sulitnya, pahitnya rintangan yang akan dihadapi. Toh pada ujungnya ini akan menjadi cerita tak terlupakan bagi hidup kita masing-masing, dan kitapun hanya bisa tersenyum dan tercengir ketika mengingat kembali ingatan yang terpatri karena pengalaman tersebut. Terkadang rasa banggapun akan keluar ketika menceritakannya, mungkin ini akan menjadi cerita yang menarik untuk anak anak kita nanti..mungkin…kelak…

Kitapun menaiki bus yang akan meninggalkan Bangkok dan menuju ke sekolah masing-masing temptat kita mengajar. Yang menarik, tempat kita mengajar ini berbeda- beda. Jadi siemua intern akan disebar ke sekolahnya masing-masing. Tiap sekolah terdiri dari 1 hingga dua intern. Jadi intinya kita akan survive dan menjalani hidup sendiri-sendiri. Justru ini menjadi poin seru buat saya pribadi, meski ini menjadi momen yang menyedihkan juga. Gimana tidak? Kita baru kenal sesama intern setelah 3 hari bersama-sama dari pagi hingga tengah malam non stop, tiba tiba langsung dipencar lagi.  Tidak sedikit dari beberapa intern yang curhat soal ini.

Tempat sekolah kita ditempatkan terletak di provinsi yang berada di kawasan North East atau Isaan. Isaan adalah nama suku yang tinggal disana, mereka menggunakan bahasa Isaan dalam bahasa sehari-hari, bahkan bahasanya tidak terlalu mirip dengan bahasa Thai. Makanya tidak mengehrankan begitu tahu kalo temen-teman saya yang anak Thai banyak yang ga ngerti soal bahasa Isaan ini. 3 Provinsi tempat sekolah sekolah kita adalah Chaiyaphum, Khon kaen, dan Sisaket. Chaiyaphum terletak di selatan dan nyaris ditengah-tengah Isaan area. Letaknya sekitar 5 jam dari Bangkok (kalo pake mobil pribadi ngebut) dan 6 jam dari Vientiane yang terletak di utara. Nah sedangkan Khon Kaen ini letaknya lumayan dekat dengan chaiyaphum, cuma 2 jam. Khon Kaen bisa dibilang salah satu kota yang paling keren di Isaan region, selain memiliki cinema (tidak seperti Chaiyaphum), Khon Kaen juga memiliki universitas terbesar di Isaan area yaitu Khon Kaen university. Yang terakhir adalah Sisaket, provinsi ini adalah provinsi yang letaknya paling jauh dengan 2 provinsi lainnya. Letaknya dekat dengan selatan Laos dan perbatasan Kamboja. Ga kebayang kayak apa kotanya. Banyak dari anak-anak intern yang berharap tidak mengajar di sekolah di daerah Sisaket.hahaha

Keadaan riweuh di bus
Awalnya saya mengira perjalanan ini akan menjadi perjalanan yang membosankan, menghabiskan 7-8 jam perjalanan di dalam bus, dengan tanpa hiburan, dan orang yang asik diajak ngobrol. Untungnya hal itu tidak terjadi. Karena teman sebangku saya adalah orang yang menyenangkan, seorang perempuan blonde yang cukup saya kenal dekat selama di Bangkok. Dia adalah cewek Brazil keturunan Italia dan Afrika sehingga rambutnya keriting. Namanya Luciana Brandao, mahasiswi international relations, berumur 2 tahun dibawah saya. Kami sempat menghabiskan waktu untuk mengobrol panjang hingga pukul 3 pagi pada malam pertama konferensi. Dia cukup open minded untuk ukuran orang latin (bagi kebanyakan orang Indonesia mungkin latin sama dengan barat (Eropa atau Amerika), padahal latin masih cenderung konservatif, meski jarak personal mereka sangatlah dekat, sedikit berbeda dengan orang Eropa ataupun Amerika (utara) meski sama berkulit putih).
Delegasi Indonesia (Pasukan Lotat) di Vientiane, Laos

Ada juga seorang Thailand yang merupakan anggota AIESEC Thailand, dia juga nimbrung bareng kami. Saya lupa namanya, mungkin spelling namanya sulit diucapkan. Dia berbahasa Spanyol dan Portugis. Memperhatikan dia dan Luci berbicara dalam bahasa Portugis, perlahan saya bisa mengerti maksudnya tapi tidak bisa membalasnya. Kedua bahasa ini sangat mirip dan merupakan bahasa dengan akar yang sama, yaitu Latin. Setelah itu akhirnya kami bertiga berbicara menggunakan bahasa Spanyol. Lumayan, ternyata bisa melatih bahasa asing disini. walau bahasa Spanyol saya masih jelek, yang penting pede.hehee...

se llama Luci
pengganjal perut di bus
Setelah 3-4 jam perjalanan dari Bangkok, kami sudah melewati daerah. Thailand disini sungguh beda dengan Bangkok. Sign atau reklame beralfabet latinpun semakin berkurang. Begitu juga gedung-gedung tinggi menjulang, Hanya bendera Raja dan foto sang Raja Bhumibol Adulyadej yang tetap eksis. Beliau adalah raja dengan tahta terlama di Thailand yang pernah ada, yaitu 68 tahun sejak tahun 1946. Bayangkan! Sedangkan umur beliau sekitar 87 tahun. Disamping itu beliau juga salah satu raja terkaya di dunia. Fenomena bendera ini cukup membuat saya terheran-heran akan hal ini, Thailand ini seperti Malaysia. Bendera negara dan foto pemimpinnya ada dimana-mana. Apa mungkin ini karakteristik negara-negara yang berbatasan dengan negara lain melalui daratan? Awalnya saya berasumsi itu, namun ternyata tidak. Karena baik Kamboja dan Laos tidak mengalami hal yang sama. Mungkin Indonesia pada jaman orde baru seperti itu, saya mulai berandai-andai..Hal unik lainnya, bahwa di Thailand terdapat bahasa yang hanya digunakan untuk berbicara kepada sang Raja. Meski bahasa ini sangat jarang digunakan, bahasa ini diajarkan di sekolah.

Raja Bhumibol Adulyadej (Rama IX)
Isaan Region


Lalu tiba-tiba kami berhenti...
Kami berhenti bukan karena ingin mengunjungi sesuatu, ataupun istirahat. Melainkan bus yang kami tumpangi  mogok, kamipun harus menunggu kurang lebih satu jam. Kebetulan kami berhenti di sebuah SD, terdapat beberapa anak yang sedang beraktivitas di lapangan sekolah. Beberapa menit kemudian kampun seperti artis, anak sekolah itu mengerubungi kami

Hal ini disebabkan dengan fisik kami yang berbeda dengan mereka, banyak fisik melayu (Indonesia), China, Bule, India dan Arab. Saking penasarannya tidak sedikit dari mereka yang menjulurkan hanya untuk menepuk tangan seperti high five. Padahal di Bangkok hal ini tidak pernah terjadi. Terlihat wajah gembira dari anak-anak itu ketika menyentuhkan tangannya. Di Indonesia, hal seperti inipun masih kerap terjadi di sekolah SD di daerah-daerah terpencil. Mereka tidak segan memperlihatkan keramahan kepada orang lain. Setelah bermain-main dengan anak sekolah, mobil mogok itupun masih saja terkapar pasrah. Akhirnya kami memutuskan mencari makan di sekitar lokasi tersebut!

salah sau materi di Sparks conference
Kesempatan membeli makan inipun langsung digunakan anak-anak volunteer untuk menggunakan bahasa Thai mereka yang ala kadarnya. Sebelumnya, sewaktu di Chulalongkorn Universty kami diajarkan berbahasa Thai yang sangat dasar untuk survive. Saya juga membeli sebuah kamus english thai untuk survive.hehe..Dan kamipun beraksi seperti anak kecil bertanya-tanya seperti berapa harganya, salam, terima kasih dan bertanya nama(yang ini agak aneh sih dirumah makan) , lalu menyebutkan nama-nama makanan seperti khao pat, pad thai dan lain-lain.


Setelah selesai makan-makan dan menunggu sebentar, akhirnya bus kami kembali normal. Kami segera melanjutkan perjalanan ke arah Chayaphum. Dalam waktu satu jam, kami tiba di sebuah sekolah SD. Sekolah ini cukup besar untuk golongan SD, mungkin jumlah siswanya ada 1000 orang. Hal yang sangat jarang terjadi di Indonesia, apalagi terletak di daerah yang sangat jauh dari ibukota.
Di sekolah yang sangat besar ini kami akan bertemu guru-guru dari beberapa sekolah dan dinas pendidikan Chaiyaphum. Rencananya di tempat inilah kami akan dikenalkan kepada kepala sekolah tempat kami mengajar, dan kepala sekolah ataupun guru tersebut pulalah yang akan menjadi host family masing-masing dari kami. Sayapun tidak sabar menunggu sekolah dan host fam saya ini. Seperti apa ya kira-kira. Harapannya semoga mendapatkan siswa smp/sma dengan tujuan lebih terasa dampaknya dibandingkan mengajar anak SD. Usai kepala sekolah dan perwakilan dinas memberikan speech dengan bahasa Thainya yang tidak dapat kami mengerti, satu persatu dari kami dipanggil kedepan. Ada yang mengajar di Chaiyaphum, ada yang di Khonkaen, ada yang di Chumpae, ada juga yang ditempat lain. Giliran sayapun tiba, saya dipanggil tepat seorang ibu guru dipanggil. Saya mendapatkan Setei Primary School sebagai tempat saya mengajar. Saya berkenalan dengan guru tersebut, namanya Ms. Yim, biasa dipanggil Ms. Smile. Yim memang berarti smile atau senyum dalam bahasa Indonesia. Lalu saya berpamitan dengan semua intern disana dengan harapan bisa saling bertemu walau sekolah tempat kami mengajar berbeda tempat. Dan petualangan barupun dimulai!



Bersama host family, Ms. Yim













A photo posted by riky ramadani (@rikybhonksky) on

1 komentar:

  1. hai kek, keren banget bisa ke thailand, aku juga masukin thailand buat jadi salahsatu destination project ku summer ini kak.
    kalo boleh pengen lihat proposal project kakak dong buat referensi :)
    aisyahbintibapaknya@gmail.com
    makasih ya kaak

    ReplyDelete