Tuesday, January 20, 2015

Tuesday, January 20, 2015
Click here to read in English (Translated by Google)

Ini adalah terusan dari Pendakian Ilegal Gunung Rinjani, Part 1


Setelah perjalanan yang cukup melelahkan dengan carrier basah, baju lepek dan fisik yang kecapekan, tibalah kami di sebuah shelter. Kalo tidak salah ini shelter 3. Bisa dibilang ini satu-satunya shelter yang masih berdiri kokoh. Mungkin karena pondasinya yang menggunakan semen, sehingga bangunan ini terbentuk permanen. Seperti rumah kecil, namun terbuka dan tanpa pintu. Sungguh beruntung kami dapat menemukan tempat ini dengan kondisi yang cukup baik dan...kosong!

Dikarenakan kondisi shelter yang cukup baik bila dibandingkan dengan shelter lainnya. Kami memutuskan untuk membangun tenda diatas shelter ini. Selain itu kusen-kusen dipinggir shelter ini juga bermanfaat sebagai tiang jemuran. Waktu yang berharga ini kami manfaatkan untuk makan, istirahat, jemur pakaian, ngobrol dan tiduuur...


Pagi harinya kami bersiap-siap untuk melakukan pendakian menuju pelawangan. Pelawangan adalah tempat terakhir bagi pendaki unuk membangun tenda. Di Pelawangan ini katanya danau Segara Anak akan terlihat jelas. Mendengar hal ini kami cukup senang dan excited. Sebelum melanjutkan pendakian ini, gw mendapatkan musibah, sandal gunung yang gw kenakan putus. Gw mencoba mengakali keadaan ini dengan bermodalkan tali rapiah. Alhasil sandal ini seperti sandal pendekar ala film Yoko tahun 90-an.

Selama perjalanan menuju pelawangan ini kami tetap tidak menemukan satu manusiapun selain rombongan kami sendiri. Hal ini cukup menyeramkan apabila hal-hal yang tidak diinginkan terjadi. Lucunya (atau mungkin anehnya), dalam perjalanan ini kami sempat diikuti seekor anjing hutan selama kurang lebih setengah jam. Anjing ini terus mendaki dibelakang kami. Menurut gw peristiwa ini tidak lazim. Bahkan menurut mas Gmock yang sering melakukan pendakian, persitiwa ini sangat langka.


Setelah rasa capek ini mencapai puncaknya dan pendakian selama beberapa jam. Kami tiba di sebuah dataran yang cukup luas. Dataran tersebut bernama pelawangan.
Ditempat ini cuacanya sangat dingin, dan anginnya sangat besar. Lagi dan lagi, kami adalah satu-satunya rombongan di tempat ini.
Palang di Pelawangan
Di Pelawangan ini terlihat danau segara anak yang keren! Meski terlihat jelas, ternyata jarak dari pelawangan ke danau cukup jauh. Ditambah cuaca sekarang ini sangat tidak memungkinkan untuk menjangkau tersebut. Katanya air meluap dan berbahaya, ditambah orang lokalpun tidak ada yang berada di lokasi sekitar.

Bagi orang-orang yang baru pertama kali menginjakan kaki disini seperti kami, tempat ini cukup keren. Namun mas Gmock sebagai orang lokal merasakan hal yang aneh. Katanya baru pertama kali ini dia tiba di pelawangan dan tidak terlihat seekor monyetpun di area ini. Katanya disini suka ada monyet. Bukannya monyet kami malah menemukan seekor ayam hutan berlari ditempat dengan ketinggian hampir 3000m dpl.Sudah diikuti anjing, eh sekarang ada ayam hutan yang larinya sangat cepat. Cukup aneh...

Dikarenakan angin dan cuaca yang kurang bersahabat, kami hanya bisa melakukan pendakian untuk ke puncak pada tengah malam, dimulai sekitar pukul 2-3 pagi. Maka dari itu kami membangun tenda di pelawangan. Begitu tenda sudah kokoh dibangun, kami dengan cepat berteduh didalam tenda dikarenakan suhu di area pelawangan dinginnya agak lebay. Bahkan katanya monyet aja kedinginan disini.hahaha.. Begitu tenda selesai dibangun, kami menghabiskan waktu jalan-jalan sejenak, ada yang leha-leha diantara kedinginan dan pemandangan indah, ada yang berfoto ria dengan menggunakan danau Segara Anak sebagai latar belakang..Sungguh menyenangkan dan serasa halaman rumah sendiri, mengingat hanya kamilah manusia di tempat ini.
Didalam tenda, mas Gmock sempat bercerita tentang pendakian rutin di gunung Rinjani, hingga kisah kecelakaan turis asing yang jatuh dipunggungan tersapu angin yang sangat kuat. Mengerikan.

Tengah malampun tiba, kami terbangun. Sayangnya kami terbangun bukan karena alarm, melainkan angin yang cukup besar mengombang-ambingkan tenda kami. Bayangkan, 4 orang dengan 4 carrier di dalam tenda saja masih terombang ambing. Padahal kalo ditotal berat kami dan carrier tersebut sudah lebih dari 300kg. Setelah kami terbangun, mau tidak mau kami harus menunggu hingga pukul 2 atau 3 untuk memulai pendakian. Cuaca malam itu sangat dingin dan anginnya cukup besar, mungkin tergolong rada ekstrim. Setelah waktu yang ditetapkan tiba, salah satu dari kami mengecek kondisi ke jalur pendakian menuju puncak. Kami berharap pendakian dapat dilakukan dan cuaca baik. Selang beberapa menit datanglah orang tersebut kembali dan sangat tidak menyarankan untuk melakukan pendakian. Sebagai orang yang sering melakukan pendakian di Rinjani diapun enggan melakukannya pada saat ini. Akhirnya kamipun kembali menuju tenda dan meneruskan perjalanan dalam mimpi kami masing-masing.


Pendaki ilegal
Pagipun tiba, namun cuaca dingin ini tetap bertahan. Efeknya, anggota tubuh gemetar karena kedinginan. Menyeduh minuman panas seperti teh dan kopi menjadi kegiatan favorit kami. Tidak ada kegiatan utama lainnya selain menunggu cuaca membaik. Jika memang cuaca membaik pada siang hari, kami siap melakukan summit attack. Namun apadaya, hal yang diinginkan rasanya mustahil datang. Bukannya cuaca yang membaik, salah satu teman kami yang mencoba melihat situasi malah dikejutkan akan sebuah angin. Angin itu bukan angin biasa, melainkan tornado. Ya, TORNADO! Dengan spontan dia berlari dan mengatakan "daripada naik mendingan pulang dulu yuk!, gw takut nih lama-lama disini, kalo anginnya kearah sini bisa berabe". Padahal dia orang Lombok dan sudah seringkali mendaki Rinjani. Sebelum packing dan  bergegas, salah satu dari kami menyempatkan diri memfoto angin tersebut dari kejauhan.

Yang membuat pendakian terhenti
Mau tidak mau, demi kelangsungan hidup kami langsung bergegas dan meninggalkan tempat tersebut. Sepanjang perjalanan turun gw berpikir dan merenung ""kenapa hal ini mesti terjadi?", "gimana kalo kita coba nekat naik?" dan "gimana kalo emang bahaya beneran?". Semakin jelas alasan balai Taman Nasional menutup pendakian di bulan Januari setiap tahunnya. Memang pendakian ini tidak sampai puncak, tapi pendakian ini mungkin akan menjadi cerita yang sulit dilupakan. Setelah itu gw mendapatkan 3 kali keberuntungan. Pertama, ketika melakukan turun gunung sendal yang gw kenakan rusak total, dan gw hampir nyeker. Beruntung, ada salah satu dari kami yang membawa sandal cadangan. Rasanya tidak percaya, kok ada orang yang membawa sandal cadangan..hahhaa.. Keberuntungan kedua, ketika turun desa pun kami mendapatkan truk omprengan gratis menuju kota. Dari kota menuju basecamp Orplas, gw terpaksa bertelanjang kaki. Orang-orang melihatnya seperti orang gila, menggunakan carrier besar namun tanpa alas kaki. Bahkan orang lokal sempat bertanya kepada gw 2 kali, "dari mana?' dan gw jawab "Rinjani". Dan ekspresi mereka terkejut seperti melihat orang gila atau bodoh, lalu berkata "bukannya ditutup ya?, cuacanya seram". Keberuntungan ketiga, kawan-kawan Orplas dengan senang hati menampung kami selama 2 malam setelah pendakian untuk masa recovery. Terima kasih!

Pengalaman ini membuat gw agak kapok melakukan pendakian di cuaca buruk, khususnya di musim hujan. Kekonyolan masa muda memang menyenangkan untuk dijalani dan gw tidak menyesal untuk melakukannya

Hai Rinjani
Tunggu aku..
Aku akan kembali kesana, mungkin tidak dengan cara yang bodoh lagi..
Karena rasa penasaran mencapai puncakmu masihlah membara di otak ini..
-Rikybhonksky-


Gaya dulu pake almamater SABHAWANA
Note : Entah bodoh atau lupa, 4 tahun kemudian, tepatnya 2015. Gw melakukan pendakian ke Gunung Kinabalu pada bulan Januari. Tepat kurang 10 hari sebelum artikel ini rampung ditulis. Padahal itu musim hujan. Meski begitu, Alhamdulillah pendakian tetap berjalan dengan lancar. Jangan diulangi lagi ya kebodohan ini bhonks!

0 komentar:

Post a Comment