Sunday, December 14, 2014

Sunday, December 14, 2014
Click here to read in English (Translated by Google)

Pendakian Ilegal Gunung Rinjani, Lombok (Part 2)

Januari 2011

Bagi sebagian orang yang belum akrab dengan Gunung Rinjani sebaiknya aware terhadap jadwal Gunung Rinjani. Kenapa? karena Gunung Rinajani memiliki jadwal tahunan dimana Gunung ini akan ditutup untuk alasan konservasi dan cuaca buruk.

Ketidaktahuan inilah yang menyebabkan gw dan teman gw, Danar, melakukan hal yang tidak disarankan. Hal itu adalah pendakian ilegal. Gimana kronologis dan efeknya? Mari kita bahas disini.
Setiap tahunnya, Gunung Rinjani menutup pendakian dan pada tahun 2011, pendakian tersebut ditutup pada periode Januari hingga Maret.
Gunung Rinjani dengan Segara Anaknya (kalo yang ini diambil dari om google)

Bagi yang belum tahu apa itu gunung Rinjani, Gunung Rinjani adalah gunung tertinggi di pulau Lombok, memiliki ketinggian 3726m dpl,  yang juga menjadi Gunung merapi aktif (Volcano) nomor dua di Indonesia. Sedangkan yang pertama adalah Kerinci. Tidak hanya itu, Rinjani merupakan gunung favorit bagi pendaki di Indonesia karena keindahannya, selain sabana yang indah, terdapat juga danau vulkanik yang bernama Segara Anak.

Sebagai anak kuliah yang suka melihat tiket murah dan sangat memipikan pendakian gunung terindah di Lombok ini, kami membeli tiket ke Bali pada bulan November 2010 untuk penerbangan bulan January (hanya tiket pergi, tanpa pulang). Nah, partner pendakian Rinjani gw kali ini adalah Danar, teman SMA yang kebetulan sama-sama menjalani pendidikan pecinta alam di Sabhawana SMA 3 Jakarta. Bagi kami, mahasiswa, tiket murah adalah kesempatan emas yang jangan sampai dilewatkan. Pada saat itu Danar sedang kuliah di Bandung, sedangkan gw sedang menjalani job training di Batam selama 6 bulan.

Menjelang persiapan pendakian, selain mempersiapkan peralatan pendakian, kami juga menyiapkan informasi mengenai pendakian. Namun seiring dengan pencarian informasi, kami semakin heran dimana banyak sumber yang mengatakan Rinjani tidak bisa didaki pada bulan Januari. ZONK!
Karena masih belum yakin dengan informasi yang didapat, kami selalu mencoba menelpon balai Taman Nasional Gunung Rinjani untuk mengetahui info pasti. Namun setelah berkali-kali mencoba selama berhari-hari, nomor tersebut selalu tidak bisa dihubungi.WTF!
Puja dan Riky

Berkat seorang kenalan Danar yang didapat ketika membeli tenda, kami dapat melakukan pendakian ini, meski dengan cara ilegal. Melalui kenalan yang didapat dari toko outdoor di Jakarta, orang ini menghubungi kami dengan orang bernama Abu Icin (maaf bila tulis namanya). Katanya, Abu Icin adalah salah satu  orang lokal di Lombok Timur yang sangat mengetahui seluk beluk Gunung Rinjani.


Tiba saatnya kami tiba di Lombok dengan menggunakan Ferry dari Bali. Gwpun "menculik" Puja, teman sekelas di kampus yang sedang menjalani job training di Lombok sejak bulan Juli. Dia sudah tinggal di Lombok selama 6 bulan, namun belum pernah mendaki Rinjani. Dengan alasan "mendingan ikut daripada nyesal". akhirnya, hanya bermodalkan beberapa baju dalam carrier, dia ikut melakukan pendakian ini.

Bermodalkan alamat dan kontak yang diberikan, tibalah kami di suatu rumah dan akhirnya bertemu Bapak-bapak yang bernama Abu Ichin ini. Bang Abu Ichin ini orangnya ternyata cukup ramah, dan dia mengantarkan kami ke basecamp pecinta alam asli Lombok yang bernama Orplas. Lalu kami berkenalan dengan kawan-kawan Orplas. Banyak dari mereka yang masih muda-muda seperti kami bertiga. Sebelum melakukan perjalanan, orang-orang memperingatkan kami bahwa cuaca sangat buruk, balai tutup dan pendakian dilarang. Jangan berharap lebih dalam melakukan pendakian, karena orang lokalpun tidak ingin mencobanya. Perasaanpun campur aduk antara tertantang, cemas, senang, dan penasaran. (Mungkin jika gw berhadapan dengan hal ini pada saat ini, gw akan memutuskan untuk tidak melakukan pendakian, namun usia 19 tahun adalah usia yang labil untuk mengambil keputusan segila ini)

Pendakian ilegal adalah pendakian yang tidak di data atau diketahui oleh pihak balai karena tidak mendapatkan izin setempat. Risiko dari pendakian ini adalah apabila terjadi kecelakaan (amit-amit), atau suatu hal yang tidak diinginkan, pihak balai tidak akan bertanggung jawab karena ini adalah pelanggaran. Ditambah mereka tidak akan mengetahui bila ada pendaki, karena tidak ada laporan masuk. Bahkan dalam situasi cuaca seperti ini, kemungkinan besar tidak akan ada ranger yang berpatroli karena gunung memang ditutup untuk segala aktivitas. Pilihannya satu, maju mendaki atau mundur. Dengan segala pertimbangan, kami memutuskan untuk mendaki.

Di basecamp pecinta alam ini, kami mendapatkan kesempatan untuk stay selama 1 malam dan menitipkan beberapa barang yang tidak perlu dibawa. Alangkah beruntungnya kami. Tidak hanya itu, mereka juga mendelgasikan salah satu anggotanya untuk menjaga kami agar tetap selamat dalam pendakian. Pendamping kami adalah mas Husnan yang akrab dipanggil dengan sebutan Mas Gmock. Selain itu mereka juga membantu kami menemukan barang-barang yang diperlukan untuk pendakian.


Danar, Puja, Riky

Nah mas Gmock yang ditengah kita nih

Kami bertiga dengan kawan-kawn orplas
Dalam perjalanan menggunakan angkot dan angkot, tibalah kami di angkot terakhir. Lucunya, ketika diangkot terakhir tersebut kami melihat 5 orang dengan menggunakan carrier yang sama besarnya (bahkan ada yang lebih besar) dengan yang kita gunakan. Dilihat dari gaya dan pembawaannya sudah pasti mereka adalah pendaki juga. Lalu kami saling berkenalan, ternyata mereka pendaki dari Lombok dan Jogja. Akhirnya ada teman tambahan juga.heheehe..

Untuk menghindari kecurigaan orang balai, kami harus  berhenti sejenak, dan memindahkan carrier. Yang tadinya ada diatas angkot, carrier tersebut harus dimasukkan kedalam angkot. Tidak hanya itu, carrier tersebut harus ditutupi terpal layaknya barang selundupan. Setelah melewati balai, kami terus berjalan selama kurang lebih 15 menit. Lalu kami turun di pinggir jalan area desa Sembalun. Disebuah warung tersebut terdapat banyak sapi. Sapi-sapi ini dilepas begitu saja tanpa ada memperhatikan. Jika dijumlah mungkin terdapat 200 sapi. Pemandangan yang cukup unik bagi seorang bocah yang lahir dan tumbuh di Jakarta. Meski begitu tidak jarang ada pencurian sapi di Lombok, konon katanya si pencuri tersebut menggendong sapi untuk membawanya. Wew!





Setelah leha-leha sebentar sambil menunggu cuaca membaik, kami memulai pendakian melalui jalan setapak melewati sawah dan hutan. Tidak lama setelah pendakian dimulai, hujan yang sangat deras pun turun. Hujan gila-gilaan ini semakin membuat pendakian berat. Belum lagi khawatir air akan merembes menembus sela-sea coverbag dan membasahi carrier. Padahal pemandangan sabana ini sungguh indah, apalagi kalo tidak hujan.

Selama perjalanan gw berpikir, sampai kapan ini hujan selesai? Gimana engga, kalo hujan ini tidak selesai-selesai kami tidak akan bisa neduh atau pasang tenda. Tidak mengherankan kenapa gunung ini ditutup untuk pendakian. Tidak memakan beberapa jam untuk merasakan jawaban dibaliknya.



Hal ini makin diperparah dengan terlihatnya beberapa pos-pos dan shelter yang pada hancur dikarenakan cuaca...

Bersambung

Tetap ceria! hehe













Baca juga :

0 komentar:

Post a Comment