Monday, December 01, 2014

Monday, December 01, 2014
2
Cerita ini adalah lanjutan dari  : Sehari bersama Negeri Aung San Suu Kyi atau Junta Militer? (Part 2)

Tachileuk, kota yang terletak di kawasan paling utara Thailand ini memiliki nuansa yang unik. Dimulai dengan banyaknya tukang tuk-tuk yang siap memergoki para wisatawan yang memasuki kota tersebut, orang-orang yang mayoritas menggunakan sarung, hingga hanya menggunakan Bath sebagai mata uang untuk bertransaksi.Sekilas, Tachileuk terlihat riweuh, ramai, tidak teratur. Mungkin seperti gabungan Siem Reap dan India .Agak jorok namun tidak ramai. Suasana yang agak sulit untuk dijelaskan.

Disini kalo kita datang dari Thailand, tidak perlu mengganti SIM card mobile dengan yang lokal. SIM card Thailand dengan mudahnya mendapatkan sinyal kuat di kota ini. Bahkan banyak dari spanduk atau banner yang menggunakan nomor Thailand untuk contact person. Hal ini hampir mirip dengan Laos dengan Vientianenya.

Ketika menyiapkan perjalanan ini, gw merasa cukup sulit untuk menemukan peta wisata ataupun peta bewarna kota Tachileuk ini. Akhirnya hanya bisa mendapatkan peta kecil hitam putih yang digambar tangan oleh salah satu blogger. Dengan bermodalkan printer, jadilah peta ala kadarnya yang menjadi penunjuk jalan. Namun ternyata peta tersebut kurang berguna, kota yang berukuran kecamatan Tebet (mungkin) ini cukup di jelajah dengan jalan kaki. Namun sayangnya gw baru menyadari hal ini setelah menaiki tuk-tuk untuk menjelajah kota ini.

Selain SIM card Thailand yang bisa digunakan di kota ini, ada hal unik yang tidak kalah menariknya.
Orang-orang di Tachileuk menggunakan Thailand Bath sebagai mata uang sehari-hari. Akhirnya rasa penasaran gw ini terjawab ketika menanyakan uang tersebut di bank dan disebuah minimart. kira-kira dengan percakapan sebagai berikut :
Gw           : *beli minuman, sambil terheran-heran "ini kok price tagnya pake Thailand Bath semua deh.., terus bayar
Penjual     : xx Bath
Gw           : kasih duit thailand Bath
Penjual     : *kasih kembalian dalam Bath
Riky         : May I have Myanmar currency?
Penjual     : No, we only use Thailand Bath
Gw           : * Speechless, sambil senyum-senyum

Setelah kejadian itu, gw berkeliling kota kecil ini sambil menunggu waktu Juma'tan di mesjid. Setelah mengulur waktu, kaki inipun melangkah ke sebuah Mesjid. Terlihat beberapa bapak-bapak berjenggot putih, memakai peci. Secara fisik lebih mirip orang India berkulit putih dibandingkan Indochina. Ini disebabkan letak geografis Myanmar yang berada diantara China, India (Bangladesh) dan Indochina (Thailand dan Laos), membuat keragaman etnis yang unik.

Setelah diperhatikan beberapa kali, mesjid ini memiliki keunikan yang tidak umum. Khususnya bagi gw, seorang manusia Indonesia. Kita bisa melihat 3 huruf berbeda dalam satu tempat (alfabet Myanmar, Arab dan Mandarin (Hanzi)). Keren! Sayang kemampuan bahasa Mandarin gw tidak mampu membaca dan memahaminya.hehe...

Berhubung badan ini sudah kotor dan perlu dimandikan, gw mengambil sebuah langkah inisiatif. Yaitu, mandi di mesjid! Bisa dibilang gw satu-satunya orang yang mandi di toilet mesjid tersebut.haha.. Setelah itu, gw mengambil wudhu dan merasakan keanehan. Sepertinya sesuatu yang biasanya mengantung ditelinga ini kok ga ada ya? Ya Tuhan, gw meninggalkan kacamata di toilet tersebut! Bodohnya!

Dengan cepat gw berlari ke toilet tersebut dan mencarinya ke setiap sudut. Tidak hanya itu, gw juga mencari ke semua toilet yang ada disitu dan bertanya ke beberapa orang. Namun hasilnya  : NIHIL.
Dengan perasaan cemas, gw tetap melanjutkan kegiatan sholat Jum'at sambil berharap kacamata tersebut ketemu. Kekhawatiran besar gw adalah mengendarai motor dari Myanmar ke Thailand tanpa menggunakan kacamata di sore dan malam hari. Mesjid ini cukup besar untuk ukuran di sebuah kampung yang terletak di perbatasan Myanmar. Tidak hanya itu, orang yang sholatpun terbilang cukup banya. Subhanallah

Usai melaksanakan Jumatan, gw langsung bergegas ke toilet tersebut dan bertanya kepada tiap orang.
Sialnya tidak ada yang mengerti bahasa Inggris, hingga salah satu orang bertanya "what's going on?"
Gw                   :  Did u see glasses?
Orang tersebut : No, what's going on?
Gw                   : I lost my glasses
Orang tersebut  : Where?
Gw                    :On toilet
Orang tersebut   : Forget it, it lost
Gw                     : What?? *nyantai banget orang ini ngomong, gondok nih gw dengarnya
                              How come? I really need it
Orang tersebut   : Do want to buy? where are you come from?
Gw                     : Maybe, is it cheap? I'm from Indonesia
Orang tersebut   :Ooh..boleh cakap melayu?
Gw                     : Boleh pakcik, cakap melayu sahaja

Lalu dia mengantarkan gw ke sebuah toko kacamata dengan motornya. Ternyata orang ini sangat baik, dia bersedia mengantar gw keliling cari cari kacamata. Meski sempat terjadi miskomunikasi, gw berhasil mendapatkan sebuah kacamata minus 2 seharga 70 Bath atau setara Rp 25.000! Awalnya seharga 80 Bath. Djigo doank men buat kacamata!hahaha..

Nama orang ini Ali, dia seorang pedagang di pasar Tachileuk. Dia seorang muslim, istrinya seorang etnis China muslim. Istrinya membantunya berjualan di pasar. Ali berbahasa melayu dan Inggris, namun bahasa Melayunya lebih baik dibanding bahasa Inggrisnya. Ternyata dia pernah tinggal di Malaysia selama 6 tahun. Bahkan sodara-sodaranya banyak yang merantau ke Indonesia, di Bukit tinggi, dan pulau Jawa. Alasannya merantau sudah pasti karena faktor ekonomi, kata dia.

Ali membawa gw ke sebuah restoran halal dan mentraktirnya! wow, ditraktir! Meski engga tau berapa harga makanannya, kalo itung-itungan ekonomi ini mah balik modal abis hilang kacamata, secara harga makanan disini lebih mahal daripada di Thailand. *bercanda. Dia bercerita bahwa hidup di Myanmar ini sangatlah sulit, harga makananpun lebih mahal dari Thailand. Padahal GDP percapita Myanmar hanya sekitar USD 1000 pertahun, sekitar 1/6-1/7nya Thailand! Kebayang kan?
Hal unik lainnya di Myanmar adalah perihal harga motor dan SIM. Dia bertanya kepada gw berapa harga bikin SIM di Indonesia? Gw bilang 1000 Bathlah kurang lebih, udah tergantung biaya dipercepat. (you knowlah, birokrasi busuk negara macam Indonesia). Lalu bukannya miris, dia malah senang mendengarnya. Kata dia, " Itu masih lebih baik daripada di sini". "Di Myanmar harga motor bisa  hampir sama dengan harga license, disini kalo mau punya lincense harus punya 10.000 Bath, Gile". Udah gitu dia bilang, kalo di Myanmar, kita kena tilang trus ketawa ga punya SIM, motornya langsung diambil sama polisi tersebut! Aje gile ya negara junta militer ini. Bersyukur gw telahir sebagai orang Indonesia begitu mendengar cerita-ceritanya. Sebenarnya gw mau tanya-tanya soal Junta Militer dan Aung San Suu Kyi, cuma engga berani.hehe.. takut salah tanya. Hal unik lain yang telah gw konfirmasi adalah bahwa kebanyakan pria di Myanmar doyan menggunakan sarung sebagai pakaian sehari-hari dimanapun dan kapanpun! Wew! Gw juga bercerita bahwa untuk masuk Tachileuk ini paspor gw harus ditahan dan harus balik sebelum matahari terbenam. Udah bayar 150 Bath, ditahan pula passpornya. Hadeuuh..


Berhubung waktu sudah sore dan gw masih harus mengunjungi Golden Triangle, gw harus segera bergegas meninggalkan Myanmar. Sebelum itu Ali sempat mengajak gw muter-muter di pasar, yang dia bilang harganya cukup murah, karena hampir semua barangnya berasal dari China. Bisa dibilang perbandingan harganya dengan makanan cenderung engga biasa.  Lalu gw berpamitan dengannya dan mengucapkan terima kasih. Semoga bertemu di kesempatan selanjutnya!

Terima kasih Myanmar, Terima kasih Ali!


Bersambung ke :

2 komentar: