Thursday, December 04, 2014

Thursday, December 04, 2014



Penang (boleh dibaca Penang atau Pineng) atau biasa disebut Pinang dalam Bahasa Melayu adalah sebuah Pulau yang indah dimana sempat menjadi tempat berlabuhnya Inggris dan Belanda. Oleh sebab itu memiliki banyak peninggalan koloni. Pulau ini memiliki populasi sekitar 1 juta orang, hanya saja mayoritas populasi tersebut berada di timur tersebut.

Luas tersebut kurang lebih sama dengan ukuran pulau karimun jawa tapi dengan populasi hampir 100 kali lipat. Pulau ini terletak sangat dekat dengan pulau Langkawi. Ternyata meski Langkawi memiliki luas lebih besar di bandingkan Penang, populasi Langkawi hanya 1/20 dari P.Penang.
Penang memiliki kota yaitu Georgetown yang juga salah satu kota tertua di Malaysia. Georgetown juga menjadi salah satu UNESCO heritage city dan salah satu kota dengan gedung kolonial terbanyak di Malaysia.

Penang menjadi kota pertama saya untuk memulai petualangan di tanah Asia Tenggara kali ini. Selain menjadi kota bersejarah, Penang juga menjadi surganya kuliner.


Setelah bangun tidur, dan mengobrol menganai Penang dan meminta rekomendasi tempat yang harus dikunjungi. Saya segera pamit dan bergegas menggunakan bus Rapid KL dari Batu Feringgi menuju Georgetown.
Pertama saya turun dari bus saya sempat bingung dengan arti Lebuh, apakah lebuh itu artinya gang atau apa? Karena di peta terdiri dari kata-kata dari lebuh,lorong hingga jalan.Setelah menuruni bus, saya langsung berkeliling tanpa tujuan yang pasti dengan maksud mengunjungi objek terdekat tanpa pilih-pilih. Kebetulan saya memasuki beberapa lorong secara acak hingga menemukan mesjid Kapitan keling. Konon mesjid ini salah satu yang tertua di Penang. Menurut saya,yang unik di mesjid ini adalah tempat wudhunya, disini tidak menggunakan keran, tapi menggunakan gayung dengan kolam sebagai sumber airnya. Hal inipun menjadi atraksi tersendiri bagi wisatawan yang wudhu ditempat tersebut, meski wisatawan tersebut seorang muslim.

Tidak hanya mengunjungi mesjadi tua. saya juga mengunjungi gedung-gedung tua, salah satunya adalah Sri Mahariamman Temple. Wihara/Kuil ini adalah yang tertua di Penang tersebut, didirikan tahun 1883. Selain itu juga terdapat Hanjiang Ancestral Temple, Clock tower, Georgetown Chamber dan gedung tua kolonial lainnya.
Sungguh gedung tua yang indah dan menarik.





 


Bila gedung-gedung di kota tua Jakarta biasanya terlihat kurang terawat, Keadaan di Georgetown sungguh terlihat sangat beda. Berdiri gedung-gedung kolonial yang megah, bersih dan terawat menghiasi kota ini. Terlihat jelas bahwa Malaysia sangat serius menjaga heritagenya dengan baik, contohnya seperti di Melaka dan Penang ini.













Sambil berkeliling random sambil memegang peta, saya putuskan tujuan berikutnya adalah Fort Cornwallis. Fort Cornwallis ini terletak di pinggir pantai, tujuannya memang untuk pertahanan di pingir laut. Benteng ini adalah benteng terbesar yang masih utuh di Malaysia,dibangun ketika Kapten Francis Light mendarat di Pulau Penang pada tahun 1786.


Fort Cornwallis dinamakan setelah Gubernur Jenderal Bengal, Charles Marquis Cornwallis. (Cornwallis adalah jenderal yang dikalahkan oleh Jenderal George Washington di Perang Revolusi Amerika di Yorktown, Virginia, pada tahun 1781, yang membuka jalan bagi terbentuknya Amerika Serikat). Desain benteng ini mirip dengan benteng Inggris di India, meskipun dibangun pada skala yang lebih kecil.


Fort Cornwallis adalah pangkalan militer dan administrasi pertama dari British East India Company. The East India Company (VOC aka kumpeni Belanda) dimulai pada awal abad ke-17. Pada tanggal 31 Desember 1600, sekelompok pedagang Inggris diberi hak monopoli atas semua perdagangan Inggris dengan Hindia Timur, dan East India Company dimulai. Selama bertahun-tahun, kegiatan bisnis mereka meledak. Hal ini dijelaskan dengan beberapa diorama mengenai Inggris dan raja lokal berbagi kekuasaan dengan berbagai perjanjian, seperti Indonesia dikelabui oleh Belanda dengan VOCnya..



Meriam VOC



Tepat diluar benteng tersebut terdapat taman dan becak warna-warni yang unik, ditambah tukang jualan minuman yang membuat tempat ini cocok untuk leha-leha. Tidak jauh dari sana terdapat laut. Di pinggir laut ini kita melihat aktivitas-aktivitas orang lokal seperti orang tua yang memancing, anak muda yang bersantai dipinggir laut, anak kecil yang bermain di taman ataupun sekedar berkumpul. Suasana tersebut cukup damai dan sangat langka untuk ditemukan di Jakarta. 

 

Setelah mengelilingi benteng yang letaknya dipinggi pantai, akhirnya saya istirahat dan mengamati aktivitas orang lokal. Pemandangan pantai dan angin menjadi racikan yang bagus untuk relaksasi. Sungguh menyenangkan. Ketika sedang menyempatkan diri untuk bersantai, tiba-tiba saya mendengar sepasang orang yang berbicara dengan bahasa (entah bahasa Melayu atau Indonesia). Setelah menguping sesaat sayapun yakin kalo dua orang tersebut orang Indonesia. Dengan iseng saya melontarkan pertanyaan, "orang Indonesia ya?". Dan ternyata benar! Akhirnya percakapan panjangpun dimulai. Mulai dari isu korupsi, jakarta hingga kasus-kasus aneh, misalnya Roy Sukro jadi pengganti Andi malarangeng, Angelina Sondakh yang foto-foto setelah hasil hukuman dikurangi, jok motor syariah di Aceh, hingga kasus Aceng dan pencalonan Rhoma Irama menjadi presiden. Haha...sungguh lucu, tapi itulah negeri kita tercinta. Meskipun sistemnya membuat orang-orang membencinya..Setelah mengobrol cukup panjang akhirnya kamipun saling mengenal. Mereka adalah sepasang, Nino dan Vivian. Ternyata mereka berdua tinggal di Singapore dan salah satunya seorang photografer. Setelah itu mereka rekomendasi saya beberaoa objek wisata dan restoran di Penang.

Berhubung waktu sudah menunjukkan pukul 6, saya mencoba menghabiskan waktu dengan berkeliling peta sambil menuju tempat-tempat bersejarah. Lumayan juga bisa sekalian menghapal jalan-jalan di Georgetown, karena kota ini memiliki ukuran yang terbilang kecil. Dan petualangan hari inipun ditutup dengan manisnya teh tarik dan keindahan malam kota Georgetown.

Sungguh pengalaman yang menarik meski baru berjalan kurang dari 5 hari, sedangkan 60 hari lebih masih menunggu saya dengan pengalaman yang tak terbayangkan...











0 komentar:

Post a Comment