Thursday, July 31, 2014

Thursday, July 31, 2014
6


Februari, 2013

Setelah dari Myanmar, gw kembali dan menyempatkan diri untuk berfoto di perbatasan Myanmar-Thailand. Tempat tersebut  wilayah paling utara seantero Thailand. Terdapat juga tulisan 'THE NOTHERN MOST OF THAILAND". Berhubung gw hanya backpacking seorang diri, gw berinisiatif mencari orang untuk mengambilkan foto dengan cara menawarkan berfoto kepada orang yang solo travelling terlebih dahulu. Setelah mereka berhasil berfoto, gw meminta tolong hal yang sama terhadap mereka. hehehe...

Setelah puas berfoto di perbatasan, gw langsung menuju pasar untuk mengambil motor dan langsung menuju GOLDEN TRIANGLE! Ketika 1 jam perjalanan dengan menggunakan motor, tiba-tiba terlintas ide untuk mengunjungi Hall of Opium. Dengan spontan, langsung saja motor ini membelokan setangnya ke arah gedung yang memiliki pekarangan indah tersebut. Jam menunjukan hampir jam 4, sedangkan waktu tutup museum tersebut adalah jam 5. Semoga waktu 1 jam cukup untuk menjelajahi museum ini. * walaupun biasanya kurang lama

Petugas tersebut berkata, meski tinggal 1 jam,mereka masih membuka museum tersebut untuk gw. Ternyata gw menjadi pengunjung museum tersebut satu-satunya. Pertama kali melangkahkan kaki di museum tersebut, gw seperti memasuki sebuah lorong yang gelap, dimana setiap beberapa meter terdapat penjelasan mengenai opium. Ditambah banyak ruangan unik yang menampilkan aspek-aspek mengenai opium dari berbagai perspektif. Keren!









Hall of Opium adalah museum yang keren dan komunikatif, beneran!  Kombinasi multimedia dan displaynya membuat nuansa yang unik dengan gaya modern untuk ukuran museum. Di Indonesia kayaknya belom ada tandinganya. Menurut gw Hall of Opium ini adalah salah satu museum terbaik di Thailand, sejajar dengan Museum Rattanakosin Hall di Bangkok.
Museum ini didirikan oleh Yayasan yang diolah Kerajaan Thai, tujuannya untuk mendokumentasikan sejarah mengenai penggunaan opium disekitaran golden triangle, mulai dari pertama kali ditemukan, penyebarannya, hingga penggunaan di tingkat Internasional.
Secara fisik, selintas bangunan museum ini tidak begitu keren, hanya berupa gedung yang dikelilingi taman dan pekarangan yang cukup luas. Namun begitu kalian masuk ke museum tersebut, dijamin ekspektasinya berubah total! Museum edukatif dan keren ini memerlukan waktu  2 sampai 3 jam untuk melihat museum, bahkan untuk kalian yang tidak menyukai museum.

Opium dan The Golden Triangle adalah hal yang tidak bisa dipisahkan. The Golden Triangle dulunya terkenal sebagai salah satu wilayah  produsen opium terbesar di dunia. Pemerintah Thailand sendiri telah berusaha memerangi perdagangan ini sejak puluhan tahun yang lalu. Nah, Hall of Opium ini dibangun untuk mendidik masyarakat tentang bahaya narkoba melalui pameran menghibur yang merekam jejak sejarah opium mulai dari penggunaan pertamanya padda 5.000 tahun yang lalu hingga isu-isu saat ini seperti penyalahgunaan narkoba dan kecanduan.Disini pengunjung dapat mempelajari mulai dari asal usul zat adiktif, opium, penyebaran, cara pemakaian, sejarah dari zaman ke zaman hingga efek negatifnya. Bukan hanya Opium, disini juga terdapat penjelasan mengenai asal usul teh, mulai dari asaal mulai hingga penyebaran nama te dan cha di berbagai negara. Selain itu, ada juga penjelasan mengenai penggunaan ganja di tanah jawa, Indonesia!!

Harga tiket masuk ke museum ini adalah 300 THB, sekitar 100rb rupiah. Tergolong mahal untuk ukuran museum, namun menurut saya ini cukup worth it lho!!!
Gw sendiri bisa dibilang satu-satunya orang yang menjadi pengunjung museum ini kala itu. Rasanya seperti bermain di rumah sendiri. Meski begitu cctv di museum ini ada dimana-mana, makanya tidak bisa ambil foto walau mencoba colongan. Meski seharusnya museum ini tutup pada jam 5, gw mendapatkan kompensasi untuk mengunjungi museum ini hingga hampir jam 6. Nyatanya 2 jam belum cukup untuk menjelajahi tempat tersebut hingga detil.

Setelah itu gw meneruskan perjalanan pulang menuju Chiang Saen dan singgah sejenak di Golden triangle yang terkenal itu.
Sangat beruntung karena hari belum terlalu gelap, padahal sudah menunjukan pukul 6 lebih (Magrhib di Thailand sekitar jam 7).


Selanjutnya, gw mampir ke Golden Triangle yang terkenal sebagai titik pertemuan tiga negara (Thailand, Laos dan Myanmar) di sungai mekong dan juga pusat opium terbesar di dunia, khususnya hingga 50 tahun yang lalu.
Dari situ, terlihat sebuah kasino yang berada di Myanmar.





Dengan batre seadanya dan tripod kecil gw mencoba mengambil foto. Namun sayangnya gagal terus. Damn, kenapa mesti low bat di momen seperti ini!
Sialnya ketika gw tiba disana seorang diri, gw kesulitan mengambil foto di tiang golden triangle. Menggunakan tripod sebanyak 3 kalipun tetap gagal! bodohnya! Tiba-tiba muncullah ibu-ibu berasal dari Jerman yang bersedia menolong saya. Danke schon frau!


Betapa untungnya gw begitu mengetahui bahwa baterai kamera tersebut habis tepat setelah si ibu Jerman membantu gw untuk berfoto ria. Tidak terbayangkan apabila baterai kamera tersebut benar-benar mati total sebelum kamera itu berhasil mengambil foto di Golden Triangle. Mungkin gw akan balik lagi pagi hari hanya untuk mengambil motor, tapi apa iya gw harus menyewa motor lagi? Sedangkan kendaraan umum sangatlah langka untuk mengambil dan menurunkan penumpang. Lucky bastard! Yah, gw sungguh beruntung hal itu tidak terjadi.


Setelah menghabiskan waktu beberapa menit di Golden Triangle, gw langsung menuju ke Chiang Saen untuk mengejar bus ke arah Chiang Rai pada hari itu juga, agar mengunjungi pasar malam Chiang Rai yang terkenal itu.

Namun apadaya, harapan dan kenyataan tidak berbanding lurus. Bus terakhir yang menuju Chiang Rai sudah meninggalkan Chiang Saen sebelum gw tiba di kota tersebut. Pupuslah harapan mengunjungi pasar malam di Chiang Rai.


Akhirnya, mau tidak mau gw harus menginap di Chiang Saen. Setelah pencarian kurang lebih setengah jam dengan berjalan kaki,gw menemukan penginapan, penginapan yang cukup nyaman. seharga 150 bath. Meski sebenarnya dormitory, gw serasa menggunakan single room karena satu-satunya tamu dalam kamar tersebut.hehe..

Berita baiknya, gw dapat beristirahat lebih fokus karena tidak ada objek yang harus dikunjungi di malam hari dan tidak perlu berkeliling kota untuk mencari penginapan, karena hal itu pasti akan gw lakukan apabila tiba di Chiang Rai malam itu.
See you on Chiang Rai!



6 komentar:

  1. Replies
    1. @BACKPACKTOR.COM
      mbak, itu nyewa motornya 150 bath, bensin 50 bath cukup kok. maaf ya baru bales. baru ngeh kalo selama ini komen engga muncul. salam kenal

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. sewa motor pake potokopi passport bisa kah? takutnya kalo diminta yg asli

    ReplyDelete
    Replies
    1. bisa kok fotokopi, bilang aja passportnya mau dipake. kalo engga dikasih nego aja atau tambahin dikit duit juga mau. Baik-baik kok biasanya penyewa motor. Saya juga engga ngasih passport saya lho..

      Delete