Thursday, June 12, 2014

Thursday, June 12, 2014
Lanjutan dari  Petualangan di Pusat Narkotik yang Menjadi Titik Pertemuan 3 Negara, The Golden Triangle!

Februari 2013,


Setelah menghabiskan waktu di Tachileuk (Myanmar) dan Chiang Saen, gw pergi menuju kota Chiang Rai. Sebenarnya rencana awal gw adalah pergi dari Chiang Saen ke Chiang Rai pada sore/malam hari (mengincar untuk mengunjungi pasar malam Chiang Rai), namun apadaya keberangkatan bus yang menjadi transportasi satu-satunya sudah terlewat. Akhirnya, dengan terpaksa gw harus menginap di Chiang Saen dan pergi Chiang Rai pagi harinya.
Perjalanan dari Chiang Saen ke Chiang Rai ini memakan kurang lebih sekitar 2 jam. Setelah mencapai Chiang Rai, gw memutuskan untuk berkeliling kota yang penuh bunga tersebut.


Gw sendiri pertama kali mendengar nama Chiang Rai ketika bulan pertama memasuki kuliah. Pada mata kuliah geografi pariwisata international, gw kebagian untuk melakukan research dan presentasi mengenai pariwisata di Thailand dan Brunei. Hingga akhirnya gw mengetahui Chiang Mai dan tetangganya, Chiang Rai, sebagai pusat pariwisata di Utara Thailand.

Chiang Rai adalah kota yang rapih dan indah. Keindahan alam yang keren dan bervariasi mulai dari bunga-bunga, bukit dan pegunungan, hingga tempat untuk melihat satwa liar dan suku asli yang eksotis, ditambah letaknya yang dekat dengan Golden Triangle, tempat yang dulunya adalah pusat perdagangan opium dunia. Dari sisi sejarah, Chiang Rai juga terkenal sejak jaman Lanna Kingdom.
Baru-baru ini pariwisata di Chiang Rai telah mengalami kemajuan pesat, disini para pengunjung datang untuk menjelajahi keindahan alam yang belum dirusak manusia dan mengenal kebudayaan orang-orang Hill Tribe. Di sisi lain, Chiang Rai juga merupakan pusat untuk proyek-proyek pemberdayaan masyarakat, membantu masyarakat pedesaan untuk  potensi wisatanya tanpa merusak alam dan budaya mereka.

Seiring perjalanan berkeliling Chiang Rai dengan berjalan kaki sambil membawa peta, tersaji pengalaman yang sunguh menyenangkan karena terdapat banyak sesuatu yang menarik mulai dari tingkah laku orang lokal, arsitek bangunan dan tempat-tempat menarik lainnya.

Kemudian, gw menemukan masjid yang cukup besar. Mungkin bisa dibilang ini salah satu masjid paling besar di wilayah utara Thailand. Mungkin loh ya, sebab gw belum melakukan research lebih lanjut. Berhubung masih pagi gw tidak menyempatkan diri untuk masuk kedalamnya.










Setelah itu, gw tertarik untuk masuk ke The Hill Tribe Museum. The hill tribe museum adalah museum yang mengenalkan hill tribe di Thailand, khususnya yang tinggal di utara Thailand. Museum ini didirikan oleh sebuah NGO yang corcern untuk pemberdayaan hill tribe people. Tujuannya untuk membantu mendidik wisatawan lokal maupun mancanegara tentang budaya Hilltribes yang semakjn pudar seiring jaman dengan cara melestarikan artefak dan memberikan informasi kepada wisatawan dan tour operator sehingga pariwisata yang bertanggung jawab dapat terjadi. Harapannya agar dampak negatif pariwisata terhadap kehidupan Hill Tribe dapat diantisipasi.






Ada berbagai aktifitas yang dapat dilakukan di museum ini mulai melihat artefak, dan alat-alat yang digunakan sehari-hari oleh orang-orang hill tribe, setelah itu gw menonton film mengenai hill tribe yang terdiri dari beberapa suku Hill Tribe di Thailand. Film yang berdurasi kurang lebih 20 menit ini menjelaskan cara hidup mereka dan karakteristiknya yang mencolok, mulai dari cara berpakaian, bahasa, pekerjaan, kebiasaannya, jumlah populasi dan banyak suku hill tribe yang berada di Thailand, khususnya daerah utara hingga hubungan mereka dengan opium.
Ternyata suku long neck Karen ini bukan satu-satunya suku hill tribe, melainkan satu dari banyak suku. Kurang lebih terdapat 6 suku yang memiliki populasi terbesar. Bahkan suku Karen aslinya bukan berasal dari Thailand, melainkan dari Myanmar. Celakanya, mereka itu mengungsi dari Myanmar karena suatu konflik di negaranya. Alhasil mereka menjadi objek di Thailand. Di Myanmar ga diterima, di Thailand jadi objekan. Film ini bukan hanya menambah wawasan, namun juga memberikan sudut pandang baru. Sejujurnya ini seperti kuliah umum mengenai Thailand.hehe
Sayangnya mengambil foto tidak dibolehkan dimuseum ini, sungguh disayangkan. Namun saya mendapatkan beberapa gambar dengan cara diam-diam. Jangan ditiru yaa..





Usai mengunjungi museum tersebut, gw memutuskan untuk mengunjungi Wat Rong Kun atau white temple yang terkenal tersebut sebelum menuju Chiang Mai.Sambil berkeliling sambil bertanya orang-orang cara menuju Wat Rong Kun. Ternyata hanya tuk-tuklah salah satu akses kesana. Ketika kebingungan mencari tuk-tuk untuk menuju Wat Rong Khun, tiba-tiba gw mendapatkan tumpangan gratis dari seorang bule. Kejadiannya tepat disebuah toko yang terletak diseberang patung Raja Meng Rai. Setelah berbicara beberapa menit gw mendapatkan info bahwa bule yang baik hati itu berasal dari Amerika dan sudah tinggal di Thailand selama 10 tahun, makanya dia dapat berbahasa Thailand dengan sangat baik. 10 tahun bukanlah waktu yang sebentar, memang Chiang Rai kota yang menyenangkan. Ternyata orang ini juga sering mengantarkan traveler yang bertanya ke terminal rupanya. Menurutnya tidak mudah mendapatkan kendaraan selain tuk tuk di Chiang Rai. Dan bule itu mengantarkan gw ke terminal bus Chiang Rai.

Akhirnya tiba juga di terminal Chiang Rai terdapat banyak tuk-tuk. Gw menghampiri salah satu tukang tuk tuk dan bertanya mengenai biaya untuk mengantarkan penumpang ke Wat Rong Khun, bapak tersebut langsung mengeluarkan sebuah kertas yang berisi dafat harga tiap rute. Dan tercantum dikertas tersebut bahwa ongkos tuk-tuk dari terminal bus adalah 300 bath! Cukup mahal untuk ukuran didalam kota, meski jaraknya sekitar 15 kilometer dari pusat kota. Gw berusaha menawar, hingga akhirnya deal dengan harga 250 bath.

Meski tetap mahal, gw meneruskan perjalanan menuju Wang Rong Khun yang fenomenal tersebut!

Wat rong khun #chiangrai #temple #thailand #travel #backpacking

A photo posted by riky ramadani (@rikybhonksky) on


to be continued...

0 komentar:

Post a Comment