Wednesday, July 03, 2013

Wednesday, July 03, 2013



Saking penasaran dan terkejut karena mendengar lagu dangdut "Kumbang- Kumbang Di Taman" ketika wudhu, setelah selesai mengambil wudhu, bukannya masuk ke mesjid, saya langsung berlari ke arah sumber suara tersebut. Ternyata suara itu bersumber dari orang kawinan! Yang bikin heboh adalah baik pengantin maupun tamunya tidak ada yang dari Indonesia ataupun Brunei dan Malaysia yang notabene berbahasa Melayu. Tanpa pikir panjang saya mengambil foto acara kegiatan tersebut. Pemandangan yang mencengangkan! Bagaimana bisa orang Khmer yang tidak mengerti bahasa Melayu ataupun Indonesia mendengarkan lagu dangdut Indonesia untuk perayaan pernikahan! Hal ini membuat saya penasaran sepanjang jalan.

Setelah itu saya langsung balik ke mesjid untuk melakukan Sholat Ashar. Menurut saya mesjid ini yang terbilang luas untuk ukuran minoritas, meski saya belum tahu berapa banyak muslim di area ini. Berhubung perut semakin keroncongan, kaki inipun menuntun  untuk mencari makan. Akhirnya, berhentilah kaki ini di sebuah restoran muslim dengan seseorang yang menyambut saya dengan “Assalamualaikum”.

Suara itu muncul dari bapak-bapak tua dengan menggunakan motif yang tidak asing buat saya, yaitu BATIK! Semakin kepolah saya akan sesuatu disini. Setelah memesan dan menghabiskan makan, saya langsung menghampiri bapak itu tadi. Ternyata bapak tersebut adalah owner dari restoran tersebut.

Hei, do u know about the pattern in your cloth? it has same pattern with my bag! *pamer tas 

......... *doi mikir

It’s batik, originally from Indonesia! BATIK!

I’ve been to Arab, Singapore, Malaysia but neven been to Indonesia. I wanna go there, the largest moslem country in the world

Yeah, u should go there!

Why there so many moslem in this Area? How come?

Yeah, there is a lot of moslem population in Cambodia. We got in from our ancestor, from Indonesia, asal jawi, jawi Island.

*Speechless sesaat "asal jawi"? Java Island! That’s my island, Jakarta is in Java island!

Oh my god, does anyone speak Malay or Bahasa here?

No, they can’t. But I know one person who can speak Malay here.

How come I heard Indonesian song at wedding celebration?

We don’t know. We don’t the meaning of those songs. All you need to know that those song is usually listened as a moslem song. The song is identic of moslem. Where there is wedding or thankgiving, there are those song.

*Speechless, pingin ngakak, kagum, bingung nyampur jadi satu

Setelah ngobrol-ngobrol, saya bertemu orang Indonesia yang ternyata anak seorang Couchsurfing. Akhirnya kita menuju mesjid lagi dari restoran untuk sholat magrib. Suasana malam disekitar restoran dan mesjid dengan sore sungguh berbeda! Malamnya, orang-orang dengan kerudung tidak berbahasa melayu. Begitu juga orang berkeliaran menggunakan peci dan sarung. Namun mereka tidak ada yang berbahasa Melayu (karena saya pernah mencoba iseng bertanya).

2 hari selanjutnya yang menjadi hari terakhir saya di Siem Reap sebelum menuju Pnom Penh. Sore harinya saya kembali ke mesjid untuk numpang makan roti setelah berkeliling Siem Reap dengan sepeda.

Ketika selesai sholat saya bertemu lagi dengan Pak Haji si pemilik restoran. Dia mengajak pergi untuk makan bersama orang-orang sekitar. Tak disangka ternyata sedang ada acara di kampung tersebut. Setelah melewati mesjid, sekolah dan kuburan muslim. Tibalah saya di gang yang cukup kumuh, terlihat banyak sampah di kanan kiri, bau, dan kotor. Bahkan terlihat banyak ayam dan seekor sapi di tepi gang tersebut! Meski begitu gang tersebut dipenuhi orang penuh senyum dan bersahaja. Begitu tiba, terlihat sekerumunan orang –orang menggunakan peci dan sarung. 


Merekapun langsung memberi saya minum, Ternyata mereka sedang merayakan syukuran, karena salah satu dari mereka baru saja membangung rumah, Rumah disini berbentuk seperti rumah panggung, umumnya bewarna merah atau cokelat. Banyak dari rumah tersebut di donasi oleh orang dari negara muslim tetangga, seperti malaysia dan Brunei, hal itu diketahui ketika saya melihat tulisan “Donated by Hj.X from Brunei/Malaysia”. Setelah itu Pak haji yang saya kenal mengenalkan saya dengan salah satu orang dari mereka yang bisa berbahasa Melayu. Akhirnya mereka menawari saya makan dengan makanan khas mereka. Yaitu roti tawar dengan air kelapa yang manis. Sungguh pengalaman baru yang unik! Mereka tidak mengenal saya tapi dengan mudahnya mengajak untuk makan bersama!

Sebelum saya meninggalkan kampung tersebut, Bapak Haji tersebut berkata bahwa ini orang-orang yang datang ke acara tersebut hanya seperempat dari populasi di sekitaar mesjid. Disitu dia mengatakan bahwaa da sekitar 500 orang yang datang. Itu berarti total populasi sekitar 2000! Wow!!! *Speechless 

Perjalanan ini tidak hanya menyenangkan namun juga melebarkan perspektif saya sebagai seorang manusia. Mungkin ini menjadi perjalanan spiritual yang tak terlupakan. Siem Reap bukan hanya kota dimana ada Angkor Wat yang menjadi komplek candi Hindu terbesar di dunia namun juga sebagai negara dengan penganut mayoritas Budha. Menjadi minoritas dimana muslim hanya segelintir namun merasakan persaudaraan yang kuat. Ini merupakan sisi lain dari Siem Reap, dimana pariwisatanya sangat  kental dengan hiburan duniawi seperti adanya pubs street yang juga menjadi pusat atraksi di malam hari.


Selain itu saya merasa bahwa persaudaraan muslim di negara minoritas muslim sangat kuat dibandingkan Indonesia. Saya sempat merasakan hal yang serupa di Myanmar, Vietnam dan Thailand.
Sedangkan di Indonesia, negara dengan muslim yang menjadi mayoritas sedang menjelma menjadi negara munafik, dimana banyak pihak mengatasnamakan agama untuk kepentingan golongan dan melupakan indahnya hidup toleransi dan berdampingan, no offense

0 komentar:

Post a Comment