Tuesday, July 16, 2013

Tuesday, July 16, 2013
2
 Silahkan baca part 1 terlebih dahulu di sini>  Sehari bersama Negeri Aung San Suu Kyi atau Negeri Junta Militer , Part 1

Akhirnya keputusan menggunakan tuk-tuk dengan membayar 100 bath untuk mengelilingi kota Tachileuk bukanlah keputusan yang buruk. Meski akhirnya gw menyadari bahwa Tachileuk adalah sebuah kota kecil yang dapat dijelajahi dengan jalan kaki, tetapi Tachileuk adalah kota yang cukup rumit. Tidak ada petunjuk jalan, dan tidak banyak orang berbahasa Inggris. Tempat-tempat tujuannya pun memasuki gang-gang.

Tujuan pertama adalah pagoda. Sebuah Pagoda berwarna hitam ini hanya memakan waktu sekitar 5 menit dari tempat awal gw menaiki tuk-tuk. Terlihat pagoda dengan atap berwarna hitam. Di dalamnya terdapat lampu interior bewarna hijau dan merah dan keadaannya cukup terawat. Disamping itu, terdapat juga sebuah patung Budha berwarna putih yang konon merupakan ciri khas Myanmar. Ini pun kali pertama gw melihat patung dengan warna tersebut.

Selanjutnya kami (gw dan tukang tuk tuk) pergi menuju pagoda yang merupakan tiruan dari pagoda Swedagon. Pagoda Swedagon adalah sebuah pagoda yang terletak di Yangoon yang menjadi
ikon Myanmar. Hanya saja ukuran pagoda tiruan ini lebih kecil dari pada aslinya. Sayangnya ketika gw mengujungi tempat tersebut, pagodanya dalam keadaan terbungkus. Padahal ini benar-benar mirip dengan aslinya!


Setelah dari pagoda tersebut, si sopir tuk-tuk menawari gw mengunjungi ke long neck village dengan harga 140bath. Menurut gw ini cukup murah, karena di Thailand sendiri biaya yang dikenakan adalah 500 bath, udah gitu palsu pula. Maksudnya itu bukanlah kampung asli, melainkan orang-orang long neck karen yang diculik atau dibawa oleh mafia travel untuk tinggal disuatu tempat. Dan nantinya entrance fee dari village itu masuk ke kantong si mafia tersebut. Jadinya seperti HUMAN ZOO, Tega sekali! Jadi sebenarnya orang-orang long neck karen itu berasal dari Myanmar, mereka adalah pengungsi di Thailand. Pemukiman mereka yang asli ada Mae Hong Son yang berjarak 6 jam dari Chiang Mai, kota terbesar di utara di Thailand. Dan tak disangka! tidak hanya di Thailand, di Myanmar pun yang notabene kampung halaman mereka, Long Neck Karen ini tetap menjadi bahan objekan. Ternyata village yang gw kunjungi adalah village rekayasa yang dibuat developer perumahan mewah (karena letaknya terdapat di dalam perumahan mewah). Gw pun tidak bisa mengelak karena sudah memasuki tempat tersebut, satu-satunya pilihan adalah menikmati kunjungan tersebut.


Desa tersebut adalah yang desa yang sangat kecil, mungkin hanya seperti sepanjang jalan yang berukuran kurang dari 200 meter. Diujung jalan terebut terdapat sebuah pendopo, mungkin menjadi tempat mereka melakukan semacam kumpul atau rapat (menurut asumsi gw). Suasana di desa tersebut sangat sepi karena hanya terdiri beberapa orang, mungkin kurang dari 15 orang. Bahkan seingat gw hanya terdiri dari 3 orang yang menggunakan gelang di leher. Orang Leher panjang tersebut adalah nenek-nenek dan seorang ibu. Sangat miris. Mereka juga menjual souvenir yang terdiri dari kerajinan tangan seperti patung, gantungan dan pakaian tradisional mereka. Selain itu dijual pula mata uang Myanmar yang sepertinya adalah mata uang lama.


Setelah itu si supir tuk-tuk kembali memberikan penawaran. Kali ini bukan tempat biasa yang ditawarkan melainkan boom-boom!. Boom-boom adalah istilah itu fuck di negara ASEAN pada umumnya seperti  Thailand, Laos, Myanmar, Cambodia, dan Vietnam. entah dari mana istilah itu berasal. Gw pun menolak dengan alasan tidak punya uang yang menurut gw alasan ampuh untuk menolak. Dan si supirpun masih merayu gw dengan bilang "MURAH-MURAH" dan menyebutkan harganya yang hanya 500 bath. Gw pun terkejut dan speechless mendengarnya. Bagaimana bisa seseorang menjual dirinya semurah itu? Jawabannya simpel, kemiskinan yang ekstrim.


Akhirnya si sopir mengantarkan gw menuju kuil dengan budha 6 sisi muka. Kenapa disebut 6 muka? Karena terdapat 6 patung buddha yang selalu melihat si pelihat meski dilihat dari arah yang berbeda. Di belakang 6 patung tersebut 1 patung budha bewarna putih yang berukuran besar. Sekali lagi patung budha putih menjadi ciri khas di Myanmar.

Dari situ si supir tuktuk mengajak gw untuk mengujungi jewelry shop untuk berbelanja ruby. Konon katanya Myanmar terkenal akan rubynya dan murah, entahlah (gw belum pernah research tentang ini). Gw sendiri tidak berminat dan malah curiga kalo semua barang tersebut palsu.

Setelah itu usailah perjalanan bersama tukang tuktuk ini. Sesuai permohonan, si sopir tuk-tuk mengantarkan gw menuju mesjid untuk menunaikan sholat jumat.
Ditulis oleh Riky Ramadani

2 komentar: