Friday, May 10, 2013

Friday, May 10, 2013

Akhirnya gw mengambil keputusan untuk menuju Mayanmar dari Thailand melalui jalur darat dengan menggunakan motor. Motor tersebut gw sewa di Chiang Saen dengan seharga 200 bath, sekitar 66 ribuan. Dengan bermodal motor dan bensin seharga 50 bath gw pun melunjur menuju Mae Sai. Kota yang berbatasan langsung dengan Tachileuk Myanmar.

Hal pertama yang harus gw tuju adalah parkiran, mengapa? karena motor yang gw gunakan ini tidak bisa memasuki wilayah Myanmar. Yang ada nanti gw ditembak junta militer lagi.haha..
Setelah berhasil memarkirkan motor di pasar, gwpun langsung menuju imigrasi.




Begitu mengantripun, gw langsung menuju ruangan dimana gw harus membayar 150bath dan mendapatkan permit untuk one day pas. FYI, Myanmar adalah satu-satunya negara yang tidak menerapkan visa sesama warga negara ASEAN. Jadi jangan harap untuk mendapatkan free visa, yang ada udah bayar, dapat 1 hari pula. Sebenarnya bisa mendapatkan lebih dari 1 hari, tapi harus bayar lebih dan berargumen kepada petugas terlebih dahulu.Setelah membayar dan berfoto maka kita akan mendapatkan entry permit dan paspor kita akan ditahan oleh petugas. Jadi kalo permit ini hilang, siap-siap aja sudah dapat paspor kita kembali.


Begitu memasuki Myanmar, suasananya sungguh beda dengan Thailand. Bahkan dengan Thailand yang di desa sekalipun. Tachileuk lebih terlihat sebagai kota yang kotor, riweuh, kacau dan riweuh. Mungkin seperti kombinasi antara Vientiane dengan Poipet, mungkin juga dengan India. Sulit dijelaskan. Hal yang paling risih begitu keluar dari kantor imigrasi adalah banyaknya tukang tuk-tuk yang akan menghampiri turis dan memaksa untuk menggunakan. Biasanya mereka menawarkan 100 bath untuk paket perjalanan keliling kota Tachileuk.Setelah berhasil menerobos romobongan tuk-tuk ini pun gw sempat terpana begitu melihat pengemis berpenampilan seperti monk yang mengikuti gw untuk meminta. (gw tidak berniat menjelekkan suatu agama, toh banyak pengemis pake peci juga di Indonesia) Yang mengagetkan adalah gw tidak pernah melihat fenomena ini di Thailand ataupun Laos. Biasanya orang akan menghampiri monk tersebut untuk memberi makan, tapi disini monk tersebut yang mengikuti para traveller untuk mencari makan.

Setelah bingung karena tidak memiliki peta (gw sudah ngeprint peta dari google, tapi tidak ada peta yang baik, coba aja deh..) gw pun menyerahkan diri kepada tukang tuk-tuk dengan mengambil paket 1 jam keliling Tachileuk sehaga 100bath.

(Bersambung ke Sehari bersama Negeri Aung San Suu Kyi atau negeri Junta Militer? ( Tachileuk, Myanmar) Part 2






0 komentar:

Post a Comment