Wednesday, January 09, 2013

Wednesday, January 09, 2013
1
Mungkin bagi sebagian besar orang pengemis adalah pekerjaan orang miskin. Stereotipe ini sudah muncul dari jaman dulu. Namun keadaannya jaman sekarang telah berubah. Pengemis jaman sekarang nyatanya tidaklah miskin dalam material. Secara fisik mereka berpakaian jelek, butut, bau bahkan jorok. Padahal kalo ditelisik ada suatu yang mencengangkan dibalik penampilan mereka. Yaitu mereka bukanlah orang yang miskin (secara finansial) meski sangat miskin (secara mental).

Latar belakang saya menulis artikel soal pengemis ini adalah semakin menambahnya pengemis di Bandung. Dulu ketika saya ke bandung hingga 7 tahun yang lalu, jumlah pengemis tidak sebanyak seperti sekarang. Sangat langka menemukan lampu merah tanpa pengemis di bandung sekrang ini. Yang makin mencengangkan adalah para pengemis tersebut banyak yang bukan dari Bandung, melainkan dari lain wilayah di Jawa Barat. Mereka merantau hanya untuk menjadi pengemis. Bayangkan! Itu yang dari Bandung, yang di Jakarta lebih mencengangkan. Pengemis di Jakarta minimal mendapatkan uang sekitar 30ribu dan maksimal mendapatkan lebih dari 300rb. Info itu saya dapatkan sekitar 2-3 tahun yang lalu yang mungkin sekarang jumlahnya semakin besar. Sekarang mari kita menghitung, berapa uang yang mereka dapatkan dalam sebulan?
minimal: 30rb x 30 hari= 900rb
maksimal : 30rb x 30hari= 9juta. (walau saya yakin sebenarnya masih bisa lebih besar dari jumlah ini)

Pengemis tersebut bisa mendapatkan 9juta rupiah dalam sebulan dan ini melebihi 4 kali lipat dari UMR DKI Jakarta yaitu 2,5 juta. Padahal ini sudah dinaikkan sebanyak 44%. Bayangkan bila belum dinaikkan, bisa 6 kali lipat! 
Awalnya saya cuma mendengar di tv, mengamati hingga membaca di media. Cuma saya cuma bisa tersenyum ketika teman saya mendengar obrolan antara pemilik warung dan pengemis di daerah blok M.

Pengemis: Mas, mau nukerin duit donk
Berapa mbak?
Pengemis: 100 ribu aja. sial nih lagi seret (sepi maksudnya)
Ibu bersyukur donk bu, ibu ngemis aja paling dikit 100rb. Saya sehari untung segitu udah Alhamdulillah
Pengemis: (Pengemispun tersenyum)

Setelah itu si penjaga warung itupun curhat ketemen saya, kalo si pengemis tersebut biasanya nukerin 150ribu-200ribu normalnya. Dan akhirnya temen gw pun cuma bisa geleng-geleng.
Itulah fenomena di negara kita, dimana pengemis dengan mental malasnya bisa mendapatkan raup untung yang besar. Bahkan saya suka mikir, yang bodoh itu yang ngasih atau gmn ya?
Kalo fenomena ini makin bertahan dan menyebar bisa dibayangkan mental mental anak muda di Indonesia, mereka akan malas bersaing, menyerah dan menjadi pengemis.

Ngomong-ngomong soal bisnis pengemis. Pengemis di Jakarta (dan juga daerah lain) ini ga cuma asal ngemis. Mereka melakukan hal ini dengan teknik dan manajemen yang baiklho..Misalnya pengemis dengan bayi yang menggunakan bayinya agar pemberi semakin iba untuk memberikan uang. Ternyata mereka mendapatkan bayinya dengan menyewa, dan biaya sewanya tidak kurang dari 30ribu perhari. Selain itu mereka juga biasanya berebut untuk mendapatkan pengemis yang buta. Mengapa bisa? Mengapa demikian? Soalnya kalo yang mengemis adalah orang buta atau anak - anak biasanya mendapat uang banyak. Kalo orang dewasa apalagi dalam kondisi normal dapatnya sedikit, karena orang-orang akan beranggapan orang itu malas. Selain itu pengemis musiman atau pendatang ini biasanya datang dengan cara mengontrak, misalnya seperti Kampung Singkong Jakarta yang biasa dikenal kampung pengemis. Pengemis yang ngontrakpun tidak pernah ngaret dalam pembayaran. Toh mereka punya duit yang lebih untuk itu. Kalah deh mahasiswa yang biasanya suka nunggak. Itu baru teknik yang mereka lakukan. Belom lagi juragan-juragannya. Pengemis biasanya memiliki bos, dan bos ini yang menjamin para pengemis dari tempat, keamanan dan juga tips n triknya. Salah satu juragan pengemis yang terkenal adalah Cak To, juragan pengemis dari Surabaya yang memiliki beberapa rumah dan mobil dari hasil tersebut. Cak To semakin dikenal karena pernah diinterview oleh Jawa Pos dan masuk di kaskus sebagai HOT TREAT. Blog mengenai Cak To dapat dilihat di http://biografi.rumus.web.id/biografi-cak-to-pengemis-kaya-di-surabaya/





Inilah alasan saya tidak memberi uang sembarangan kepada pengemis. Memberinya sembarangan sama saja memberikan kesempatan mereka untuk bermalas-malasan. Hal ini sangat berbahaya untuk generasi mendatang. Semoga jalan-jalan di pulau Jawa bisa seperti di Bali, dimana sangat jarang pengemis di lampu merahnya. Walau ternyata masih ada setelah saya mengooglingnya (tapi sangat jarang dibandingkan di pulau jawa). Selain itu fenomena ini ternyata juga ada di negara tetangga lho..ini buktinya http://www.sinarharian.com.my/semasa/pengemis-kaya-bukan-dongeng-1.92362

referensi : 

1 komentar:

  1. kalo di Bali begitu ada pengemis mangkal bisanya langsung dibawa Satpol PP ke markas gak tau deh diapain. Beda banget sama di Malang, di depan plus sekitaran gerbang kampus ada lebih dari 3 pengemis yang mangkal. Jauh beda pemandangannya. Hehe :)

    ReplyDelete