Saturday, January 19, 2013

Saturday, January 19, 2013


Sebenarnya gw udah menulis tentang cerita ini dan itu lebih baik dibandingkan cerita yang sekarang, karena gw laptop rusak dan tulisan itu berada di dalamnya. Hal ini diperparah dengan tidak mampunya hp gw mengakses blogger.com, entah dikarenakan berat atau memang tidak bisa. Oleh sebab itu gw cuma bisa menulis di hp dan mentransfernya ke pc/ laptop untuk dipostkan.

Ternyata, setelah packing sesuai rencana gw masih kekurangan barang yang menurut gw penting. Barang tersebut adalah kacamata. Kacamata ini digunakan sebagai kacamata cadangan. Gw sendiri membutuhkan cadangan karena biasanya gw menghabiskan sekitar 2-4 kacamata dalam 1 semester. Menghabiskan disini bukan berarti dimakan, melainkan rusak. Entah karena kebodohan, kecerobohan atau memang barang tersebut memang rapuh. Peristiwa inilah yang membuat orang yang memanggil gw destroyer semakin menjadi-jadi.

Setelah mendapatkan kacamata dan pamit kepada keluarga dekat yang tinggal berdekatan dengan rumah gw. Gw pun sholat Jum'at. Sholat Jumat ini menjadi sholat jumat terakhir gw di Indonesia dalam 2 bulan terakhir. Gw harap gw bisa melakukannya tanpa putus di negara-begara yang gw kunjungi nanti.

Sehabis jumatan gw pun berangkat menuju stasiun gambir untuk mendapatkan bus damri jurusan airport. Gw brangkat jam stengah 2 dan tiba jam 2. Tidak sampai 10 menit menunggu, buspun berangkat. Tarif bus ini 25 ribu. Bus inipun tiba pada jam 3 pas. Lebih cepet dari yang gw kira.

Begitu tiba di airport, tempat yang harus gw tuju slain counter air asia adalah money changer. Berhubung gw ga punya bath sepeserpun. Gw menaruh bagasi dan membayar airport tax. Airport tax untuk international masi tetap 150.000.Setelah itu gw menuju ke arah money changer dan hasilnya nihil. Padahal ada 2 money changer. Perkataan petugas kedua money changerpun sama : "tadi pagi ada mas bathnya, tapi sekarang abis". Ketika gw memasuki boarding lounge gw sempet tertahan karena membawa minuman. Padahal rencananya minuman itu mau gw minum didalam boarding,tp terpaksa niat itu harus gw urungkan karena botol itu harus bergabung dengan botol-botol yang lain. Yang menarik adalah sekarang kita tidak perlu menggunakan kartu embarkasi ketika ke Malaysia. Awalnya saya mengira ini kesalahan imigrasi atau lupa. Tapi setelah bertanya kepada petugas, ternyata memang tidak memerlukannya.

Setelah menunggu cukup lama gw pun masuk ke dalam pesawat. Pesawat ini berukuran 30x6 seat. Yup, seperti biasa pemandangan yang bisa dilihat ketika memasuki pesawat tersebut adalah asap-asap yang keluar dari air conditioner. Asap ini ada hal yang biasa di air asia. Setelah itu hal-hal yang bisa gw lakukan adalah mendengarkan musik, membaca majalah novel dan mungkin... Cuci mata dengan kecantikan pramugari. Alaaaah...
Pesawat pun sering mengalami turbulance, kejadian ini di karenakan cuaca yang buruk. Peringatanpun lebih dari 4 -5 kali dikumandangkan untuk menggunakan seat belt. Seperti naik kora-kora kok rasanya, menyenangkan!

Waktu pengecapan pasporpun tiba dan gw sempet mendapatkan pertanyaan dari petugas kenapa paspor gw luntur di bagian depan. Dengan spontan gw jawab aja "banjir di rumah". Meski gw sendiri lupa kenapa paspor itu banjir, klo ga salah itu ketika di Bandung atau Jakarta. Gw pun sebenarnya ga pernah kena banjirm.haha.. Setelah jawaban ngawur itu petugaspun memberikan capnya.

Setelah itu gw menuju bus stop untuk menunggu bus 102 tujuan Teluk Bahang. Tujuan gw sendiri menuju
Nunggu bus batu feringgi. Setelah menunggu lebih dari setengah jam sekitar 3 bus lewat, namun tidak satupun dari bus tersebut adalah 102. Akhirnya gw menemukan bus 102 tetapi bus itu malah berhenti dan mematikan mesinnya.damn! Menunggu tetap diterukan hingga sudah lebih dari 5 bus terlewat. Setelah satu jam lebih menunggu tiba-tiba sopir bus 102 yang berhenti tersebut menyalakan mesinnya dan memberitahu bahwa dia akan jalan. Alhamdulillah, akhirnya!

Begitu memasuki bus hal pertama yang muncuk di benak pikiran gw adalah nasionalisme. Ya, terdapat 5 bendera Malaysia di dalam bus tersebut. Dan hal ini tidak mengherankan, karena hal ini sangat wajar. Berbeda sekali dengan di Indonesia, sangat jarang menemukan bendera merah putih didalam metro mini, ataupun transjakarta. Gw menjadi satu-satunya penumpang dalam bus itu di sepanjang jalan.
Bahkan gwpun sampai hafal dengan papan iklan perusahaan komunikasi di sana. Mereka menggunakan bahasa Inggris dan Melayu. Seperti inilah kira-kira bunyinya:

Travel fast : bergerak pantas (kalo ga salah)
Never lost :tak sesat
Stay informed : serba tahu
Weather forecast : ramalan cuaca

Setelah itu gw juga melihat beberapa sign yang menarik perhatian gw, yaitu arah ke Kampung jawa. Seperti apakah kampung Jawa disini? Selain itu juga ada 2 kalimat melayu yang membuat saya tertawa,yaitu : Rumah kelamin dan Banci lalu lintas

Ketika memasuki wilayah Batu Ferringgi, tiba-tiba Penang diguyur oleh hujan yang sangat deras. Benar-benar deras! Tiba-tiba gwpun kepikiran, gimana nanti gw nyari alamat ditengah hujan deras? Belom lagi carrier gw didalamnya terdapat laptop. Benar-benar menguji kewolesan. Sopirpun menurunkan gw didepan bus stop holiday inn. Dan gw hanya bisa menunggu dan menunggu, paling tidak hingga hujannya reda.

Setelah hujan gwpun lekas mencari lokasi condominium Mic yang ternyata letaknya cukup dekat. Langsung aja gw tekan bell, dan Mic mengantarkan gw ke unit yang berbeda. Ternyata gw tinggal di tempat yang berbeda unit dengan Mic. Sebelum dia memberika kunci dia memberitahu peraturan, cara menggunakan plug, lampu, shower hingga dispenser. Benar- benar orang yang detail. Tipikal orang Prancis. Akhirnya Mic pun memberika kunci unitnya ke gw. Lalu gw segera mandi dan tidur. Berharap mendapatkan pengalaman yang seru di Pulau Penang!

Lihat juga :
Kereta Api dari Penang ke Bangkok

0 komentar:

Post a Comment